MAKALAH JARINGAN KOMPUTER

PENGGUNAAN IPv6 SEBAGAI SOLUSI PENGGANTI IPv4

Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas

Matakuliah Jaringan komputer

YUDHIA ADI NUGRAHA

 No. Mhs      : 095410152

               Jurusan         : Teknik Informatika

    njang         : Strata Satu

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

AKAKOM

YOGYAKARTA

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT penulis ucapkan karena berkat rahmat dan hidayah-Nya   saya  dapat   mengikuti   kegiatan   perkuliahan   di   kampus   STMIK AKAKOM hingga menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Judul makalah ini adalah “Penggunaan IPv6 sebagai Solusi Pengganti IPv4 ”.Makalah ini disusun sebagai tugas matakuliah Jaringan Komputer  yang diampuoleh   Bp.Sigit Anggoro.ST.MT.   di  STMIK AKAKOM Yogyakarta.   Pada   kesempatan   ini   penulis   ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

a)    Ibu,   bapak,   dan   adikku   yang   selalu   memberikan   dukungannya   dan mendoakan saya selama kuliah ini di STMIK AKAKOM

b)    Bp.Sigit Anggoro.ST.MT.   yang   selama   ini   telah   memberikan ilmunya selama perkuliahan hingga penyusunan makalah ini.

c)    Teman – teman mahasiswa Teknik Informatika kelas 9, khususnya angkatan 2009.

d)    Seluruh   pihak   yang   telah   memberikan   bantuan   dan   dukungan   dalam

penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan sedikit informasi sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Untuk itu penulis menerima dengan baik segala kritik dan saran. Akhir kata penulis memohon maaf apabila ada kata – kata yang tidak berkenan. Terima kasih.

Yogyakarta, Desember  2011

                                                                                                                                                                                                                         Yudhia Adi Nugraha

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………….i

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………….ii

Daftar Tabel……………………………………………………………………………………………..iii

Daftar Gambar………………………………………………………………………………………….iii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………1

A. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………..1

B. Perumusan Masalah………………………………………………………………..1

C. Tujuan Penulisan Makalah………………………………………………………..2

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………….3

A. Konsep Dasar Protokol…………………………………………………………….3

1. TCP……………………………………………………………………………………….3

2. IP………………………………………………………………………………………….3

B. Definisi IPv6……………………………………………………………………………4

C. Keunggulan IPv6……………………………………………………………………..4

1. Setting Otomatis Statefull………………………………………………………….4

2. Setting Otomatis Stateless…………………………………………………………5

D. Address IPv6………………………………………………………………………….5

1. Unicast (one-to-one)………………………………………………………………..5

2. Multicast (one-to-many)…………………………………………………………..6

3. Anycast…………………………………………………………………………………7

E. Penulisan Alamat pada IPv6………………………………………………………7

F.  Kelas IPv6……………………………………………………………………………..9

G. Struktur Paket Data pada IPv6………………………………………………….10

H. Perubahan dari IPv4 ke IPv6……………………………………………………11

1. Kapasitas Perluasan Alamat………………………………………………………11

2. Penyederhanaan Format Header……………………………………………….12

3. Option dan Extension Header…………………………………………………….12

4. Kemampuan Pelabelan Aliran Paket…………………………………………….12

5. Autentifikasi dan Kemampuan Privasi………………………………………….12

I. Transisi IPv6……………………………………………………………………………13

J. Contoh Infrastruktur IPv6………………………………………………………….14

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………………15

A. Kesimpulan………………………………………………………………………………15

B. Saran……………………………………………………………………………………….15

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….16

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan   teknologi   jaringan   komputer   dewasa   ini   semakin   pesat  seiring dengan kebutuhan masyarakat akan layanan yang memanfaatkan jaringan komputer. Pada sistem jaringan komputer, protokol merupakan suatu bagian yang paling penting. Protokol jaringan yang   umum   digunakan   adalah   IPv4. Akan tetapi   protokol   telah   berumur   lebih   dari   20   tahun   masih   terdapat   beberapa kekurangan dalam menangani   jumlah   komputer   dalam   suatu   jaringan   yang

semakin  kompleks. Telah dikembangkan protokol jaringan baru, yaitu IPv6 yang merupakan solusi dari masalah diatas. IPv6 menawarkan fitur dan fungsionalitas  yang   lebih   dari   IPv4   seperti   ruang   pengalamatan   yang   jauh   lebih   besar,   fitur  keamanan   IPSec,   penanganan   lalu   lintas  multimedia   di   internet,   dan   lain-lain. Namun,   protokol   baru   ini   belum   banyak   diimplementasikan   pada   jaringan-jaringan di dunia.

B. Perumusan Masalah

Setelah   IPv4   sukses   penggunaannya   oleh   para   pengguna   internet, kemudian timbul suatu permasalahan baru dimana IPv4 hanya dapat menampung para   pengguna   internet   sebanyak   4,3   milyar   saja,   sedangkan   angka   ini diperkirakan   akan   melonjak   kembali   beberapa   tahun kedepan.   Masalah   yang  paling besar pada Internet Protocol saat ini adalah perputaran kecepatan untuk mencapai   suatu   titik   alamat   jaringan   yang   tersedia.   IPv4   mempertimbangkan  sekitar 2  32    atau 4.294.967.296 alamat, sebagian besar kesalahan pada alokasi awal, tanpa   meninggalkan   ruang   untuk   pengembangan.   IP   versi   baru   yaitu   IPv6 .menawarkan   suatu   pemecahan   yang   lebih   permanen,   yaitu   sekitar   2  128     atau  40.282.366.920.938.463.463.374.607.431.768.211.456 alamat.

Berdasarkan hal itulah kemudian dirancang suatu protokol internet baru  yang dinamakan Internet Protocol next generation (IPng) pada tahun 1996 yang  penggunaannya secara bertahap akan menggeser penggunaan dari IPv4 yang telah  sukses sebelumnya. IPng atau disebut juga IPv6 sendiri adalah suatu protokol layer ketiga terbaru yang diciptakan untuk menggantikan IPv4 atau yang sering dikenal sebagai IP. Alasan utama dari penciptaan Internet Protocol V ersion 6 ini adalah   untuk   mengoreksi   masalah   pengalamatan   pada   versi   4   (IPv4).   Karena kebutuhan akan alamat internet semakin banyak, maka IPv6 diciptakan dengan  tujuan untuk memberikan pengalamatan yang lebih banyak dibandingkan dengan  IPv4, sehingga perubahan pada IPv6 masih berhubungan dengan pengalamatan IP  sebelumnya.  Perubahan  terbesar  pada  IPv6  adalah  terdapat  pada  header,  yaitu peningkatan jumlah alamat dari 32 bit (IPv4) menjadi 128 bit (IPv6).

C. Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan umum dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada matakuliah Jaringan Komputer di STMIK AKAKOM.  Adapun   tujuan   khusus   yang   hendak dicapai pada makalah ini, antara lain :

a)   Mengimplementasikan   penggunaan   IPv6   sebagai   solusi   dari   permasalahan

IPv4 dalam menangani jumlah komputer dalam suatu jaringan yang semakin

kompleks dari tahun ke tahun.

b)  Penggunaan fungsi “Otomatisasi Setting” untuk pengelolaan dan pengaturan alamat IP di suatu jaringan komputer sebagai salah satu kelebihan penggunaan IPv6 dibandingkan IPv4.

c)  IPv6 mendukung penyusunan alamat IP secara terstruktur dan menyediakan kemampuan routing baru yang tidak terdapat pada IPv4.

d)   Kelengkapan IPv6 dengan  mekanisme penggunaan alamat secara  lokal  yang memungkinkan terwujudnya instalasi  secara  Plug & Play, serta menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet, seperti dukungan terhadap aliran data secara  real-time,  pemilihan  provider,  mobilitas  host, maupun end-to-end  security.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Protokol

Protokol dapat dimisalkan sebagai penerjemah dua orang yang berbeda bahasa ingin berkomunikasi. Protokol internet yang pertama kali dirancang pada awal tahun 1980-an. Akan tetapi pada saat itu, protokol tersebut hanya digunakan untuk menghubungkan beberapa node saja. Baru pada awal tahun 1990-an mulai disadari bahwa internet mulai tumbuh ke seluruh dunia dengan pesat. Sehingga banyak   bermunculan   protokol   internet.   Sehingga   disadari   bahwa   dibutuhkan sebuah protokol internet yang standar, yaitu OSI (Open System Interconnection). Tetapi  pada perkembangannya,  TCP/IP menjadi standar  de  facto  yaitu standar yang diterima karena pemakaiannya secara sendirinya semakin berkembang.

1. TCP (Transmission Control Protocol)

Transmission  Control  Protocol  atau   yang   sering  kali  disingkat   menjadi TCP berfungsi untuk melakukan transmisi data per-segmen (paket data dipecah dalam jumlah yang sesuai dengan besaran paket kemudian dikirim satu persatu hingga   selesai).  Agar   pengiriman   data   sampai   dengan   baik,   maka   pada   setiap packet   pengiriman,   TCP   akan   menyertakan   nomor   seri   (sequence   number). Adapun  komputer  tujuan  yang  menerima  paket  tersebut  harus mengirim balik sebuah   sinyal  acknowledge  dalam   satu   periode   yang   ditentukan.   Bila   pada waktunya komputer tujuan belum juga memberikan acknowledge, maka terjadi time out  yang menandakan pengiriman packet gagal dan harus diulang kembali. Model protokol TCP disebut sebagai connection oriented protocol.

2. IP (Internet Protocol)

IP (Internet Protocol) atau alamat IP dapat disebut dengan kode pengenal komputer pada jaringan merupakan komponen vital pada internet, karena tanpa alamat IP seseorang tidak akan dapat terhubung ke internet. Penggunaan alamat IP  dikoordinasi   oleh   lembaga   sentral   internet   yang   dikenal   dengan   IANA,   salah  satunya adalah NIC (Network Information Center).

B. Definisi IPv6

IP versi 6 (IPv6) adalah protokol internet versi baru yang didesain sebagai pengganti dari Internet protocol versi 4 (IPv4) yang didefinisikan dalam RFC 791. IPv6   yang   memiliki   kapasitas   alamat   (address)   raksasa   (128   bit),   mendukung penyusunan   alamat   secara   terstruktur,   yang   memungkinkan   Internet   terus berkembang dan menyediakan kemampuan routing baru yang tidak terdapat pada IPv4. IPv6 memiliki tipe alamat  anycast  yang dapat digunakan untuk pemilihan route secara efisien. Selain itu IPv6 juga dilengkapi oleh mekanisme penggunaan alamat secara local yang memungkinkan terwujudnya instalasi secara Plug&Play, serta menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet, seperti dukungan terhadap aliran datasecara  real-time,  pemilihan  provider,  mobilitas  host,  end-to-end  security,  maupun konfigurasi otomatis.

C. Keunggulan IPv6

Otomatisasi     berbagai     setting     /     Stateless-less     auto-configuration (plug&play).  Alamat   pada   IPv4   pada   dasarnya   statis   terhadap  host.   Biasanya diberikan secara berurut pada host. Memang saat ini hal di atas bisa dilakukan secara   otomatis   dengan   menggunakan   DHCP   (Dynamic   Host   Configuration Protocol),   tetapi   hal   tersebut   pada   IPv4   merupakan   fungsi   tambahan   saja, sebaliknya pada IPv6 fungsi untuk men-setting secara otomatis disediakan secara  standar dan merupakan  default-nya. Pada setting otomatis ini terdapat dua cara tergantung dari penggunaan address, yaitu setting otomatis stateless dan statefull.

1. Setting Otomatis Statefull

Cara pengelolaan secara ketat dalam hal range IP address yang diberikan  pada   host   dengan   menyediakan   server   untuk   pengelolaan   keadaan   IP  address,  dimana cara ini hampir   mirip   dengan   cara   DHCP   pada   IPv4.   Pada   saat  melakukan  setting  secara otomatis,  informasi  yang  dibutuhkan  antara  router,server  dan  host  adalah  ICMP (Internet Control Message Protocol) yang telah diperluas. Pada ICMP dalam IPv6 ini, termasuk   pula   IGMP   (Internet   Group management  Protocol)  yang  dipakai  pada multicast pada IPv4.

 

 

 

 

 

2. Setting Otomatis Stateless

Pada   cara   ini   tidak   perlu   menyediakan  server  untuk   pengelolaan   dan pembagian   IP  address,   hanya   men-setting  router   saja   dimana   host   yang   telah tersambung di jaringan dari router yang ada pada jaringan tersebut memperoleh prefix  dari address dari jaringan tersebut. Kemudian host menambah  pattern bit yang diperoleh dari informasi yang unik terhadap host, lalu membuat IP address sepanjang 128 bit dan menjadikannya sebagai IP address dari host tersebut. Pada informasi unik bagi host ini, digunakan antara lain address MAC dari  network interface. Pada setting otomatis stateless ini dibalik kemudahan pengelolaan, pada Ethernet atau FDDI karena perlu memberikan minimal 48 bit (sebesar address MAC)  terhadap  satu  jaringan,  memiliki  kelemahan  yaitu  efisiensi  penggunaan alamat yang buruk.

 

 

 

 

D. Address IPv6

1. Unicast (One-to-one)

Digunakan untuk komunikasi satu lawan satu, dengan menunjuk satu host.

Pada alamat unicast ini terdiri dari :

1.   Global, alamat yang digunakan misalnya untuk alamat  provider  atau alamat geografis.

2.   Link Local Address adalah alamat yang dipakai di dalam satu link saja. Yang dimaksud link di sini adalah jaringan lokal yang saling tersambung pada satu  level.  Alamat   ini   dibuat   secara   otomatis   oleh   host   yang   belum  mendapat alamat global, terdiri dari 10+n bit prefix yang dimulai dengan “FE80″ dan field sepanjang 118-n bit yang menunjukkan nomor host. Link Local Address  digunakan pada pemberian alamat IP secara otomatis.

3.   Site-local, alamat yang setara dengan private address, yang dipakai terbatas di dalam site saja. Alamat ini dapat diberikan bebas, asal unik di dalam site tersebut, namun tidak bisa mengirimkan paket dengan tujuan alamat ini di luar dari site tersebut.

4.   Kompatibel.

 

 

 

 

 

 

 

2. Multicast (One-to-many)

Yang digunakan untuk komunikasi satu lawan banyak dengan menunjuk host  dari  group.  Multicast address  ini pada IPv4 didefinisikan sebagai kelas D, sedangkan   pada   IPv6   ruang   yang   8   bit   pertamanya   di   mulai   dengan   “FF” disediakan untuk multicast address. Ruang ini kemudian dibagi-bagi lagi untuk menentukan  range  berlakunya.   Kemudian  blockcast   address  pada   IPv4   yang alamat bagian hostnya didefinisikan sebagai “1”, pada IPv6 sudah termasuk di dalam multicast address ini. Blockcast address untuk komunikasi dalam segmen yang sama yang dipisahkan oleh gateway, sama halnya dengan multicast address 10 dipilih berdasarkan range tujuan.

3. Anycast

Yang menunjuk host dari group, tetapi paket yang dikirim hanya pada satu host  saja. Pada  alamat jenis ini,  sebuah  alamat diberikan  pada beberapa host, untuk mendefinisikan kumpulan node. Jika ada paket yang dikirim ke alamat ini, maka  router  akan   mengirim   paket   tersebut   ke   host   terdekat   yang   memiliki Anycast address sama. Dengan kata lain, pemilik paket menyerahkan pada router tujuan yang paling “cocok” bagi pengiriman paket tersebut. Pemakaian Anycast  ini misalnya  terhadap beberapa server yang memberikan layanan seperti DNS (Domain Name Server). Dengan memberikan Anycast alamat Address sama pada server-server tersebut, jika ada paket yang dikirim oleh client ke alamat ini, maka router   akan   memilih   server   yang   terdekat   dan  mengirimkan   paket   tersebut   ke server tersebut. Sehingga, beban terhadap server dapat terdistribusi secara  merata. Bagi  anycast  ini  tidak  disediakan  ruang khusus. Jika terhadap beberapa host diberikan   sebuah   alamat   yang   sama,   maka   alamat   tersebut   dianggap   sebagai Anycast Address.

E. Penulisan Alamat pada IPv6

Model   x:x:x:x:x:x:x:x   dimana   ‘x‘  berupa   nilai   hexadesimal   dari   16   bit porsi alamat, karena ada 8 buah ‘x‘ maka jumlah totalnya ada 16 * 8 = 128 bit. Contohnya adalah :

FEDC : BA98 : 7654 : 3210 : FEDC : BA98 : 7654 : 3210

Jika format pengalamatan IPv6 mengandung kumpulan group 16 bit alamat, yaitu

‘x‘, yang bernilai 0 maka dapat direpresentasikan sebagai ‘::’. Contohnya adalah :

FEDC : 0 : 0 : 0 : 0 : 0 : 7654 : 3210

dapat direpresentasikan sebagai

FEDC :: 7654 : 3210

Dan    0:0:0:0:0:0:0:1     dapat direpresentasikan sebagai        ::1

Model   x:x:x:x:x:x:d.d.d.d   dimana   ‘d.d.d.d’   adalah   alamat   IPv4   semacam

167.205.25.6 yang digunakan untuk automatic tunnelling. Contohnya adalah :

0:0:0:0:0:0:167.205.25.6 atau ::167.205.25.6

0:0:0:0:0:ffff:167.205.25.7 atau :ffff:167.205.25.7

Jadi jika sekarang mengakses alamat di internet misalnya 167.205.25.6 pada   saatnya   nanti   format   tersebut   akan   digantikan   menjadi   semacam ::ba67:080:18. Sebagaimana IPv4, IPv6 menggunakan bitmask untuk keperluan subnetting  yang   direpresentasikan   sama   seperti   representasi  prefix-length  pada teknik CIDR yang digunakan pada IPv4, misalnya :

  3ffe:10:0:0:0:fe56:0:0/60 

menunjukkan bahwa 60 bit awal merupakan bagian network bit.  Jika pada IPv4 mengenal pembagian kelas IP menjadi kelas A, B, dan C maka pada IPv6 pun dilakukan pembagian kelas berdasarkan fomat prefix (FP) yaitu format bit awal alamat. Misalnya :

  3ffe:10:0:0:0:fe56:0:0/60  maka jika diperhatikan 4 bit awal yaitu hexa ‘3’ didapatkan format prefixnya untuk 4 bit awal adalah 0011 (yaitu nilai ‘3’ hexa dalam biner).

F. Kelas IPv6

Ada beberapa kelas IPv6 yang penting yaitu :

1.   Aggregatable Global Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat

IPv6 dengan bit awal 001.

2.   Link-Local   Unicast  Addresses  :   termasuk  di   dalamnya   adalah   alamat   IPv6

dengan bit awal 1111 1110 10. 

3.   Site-Local   Unicast   Addresses  :   termasuk   di   dalamnya   adalah   alamat   IPv6

dengan bit awal 1111 1110 11. 

4.   Multicast Addresses  : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit

awal 1111 1111.

Pada protokol IPv4 dikenal alamat-alamat khusus semacam 127.0.0.1 yang

mengacu   ke   localhost,   alamat   ini   direpresentasikan   sebagai  0:0:0:0:0:0:0:1

atau  ::1  dalam protokol IPv6. Selain itu pada IPv6 dikenal alamat khusus lain

yaitu 0:0:0:0:0:0:0:0 yang dikenal sebagai unspecified address yang tidak boleh

diberikan sebagai pengenal pada suatu interface. Secara garis besar format unicast

address adalah sebagai berikut :

 

 

 

Interface ID digunakan sebagai pengenal unik masing-masing host dalam satu   subnet.   Dalam   penggunaannya   umumnya   interface   ID   berjumlah   64   bits dengan format IEEE EUI-64. Jika  digunakan  media  ethernet  yang  memiliki  48 bit  MAC  address  maka  pembentukan interface ID dalam format IEEE EUI-64

adalah sebagai berikut :

Misalkan MAC address-nya adalah 00:40:F4:C0:97:57

1.   Tambahkan   2   byte   yaitu   0xFFFE   di   bagian   tengah   alamat   tersebut

sehingga menjadi 00:40:F4:FF:FE:C0:97:57

2.   Komplemenkan (ganti bit 1 ke 0 dan sebaliknya) bit kedua dari belakang pada byte awal alamat yang terbentuk, sehingga yang dikomplemenkan adalah ‘00’ (dalam hexadesimal) atau ‘00000000’ (dalam biner) menjadi ‘00000010’ atau ‘02’ dalam hexadesimal.

3.   Didapatkan     interface     ID     dalam     format     IEEE     EUI-64     adalah 0240:F4FF:FEC0:9757.

Di bawah ini adalah tabel perbandingan antara IPv4 dan IPv6 :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


G. Struktur Paket Data pada IPv6

Dalam   men-design  header  paket   ini,   diupayakan   agar  cost  atau   nilai  pemrosesan header menjadi kecil untuk mendukung komunikasi data yang lebih  real time. Misalnya, alamat awal dan akhir menjadi dibutuhkan pada setiap paket. Sedangkan   pada   header   IPv4   ketika   paket   dipecah-pecah,   ada   field  untuk  menyimpan urutan antar paket. Namun field tersebut tidak terpakai ketika paket tidak dipecah-pecah. Header pada Ipv6 terdiri dari dua jenis, yang pertama, yaitu field yang dibutuhkan oleh setiap paket disebut header dasar, sedangkan yang  kedua yaitu field yang tidak selalu diperlukan pada packet disebut header ekstensi,  dan header ini didifinisikan terpisah dari header dasar. Header dasar selalu ada pada setiap packet, sedangkan header tambahan  hanya   jika   diperlukan   diselipkan   antara   header   dasar   dengan   data.   Header  tambahan, saat ini didefinisikan selain bagi penggunaan ketika packet dipecah, juga   didefinisikan   bagi   fungsi  security  dan   lain-lain.   Header   tambahan   ini, diletakkan setelah header dasar, jika dibutuhkan beberapa header, maka header ini akan disambungkan berantai dimulai dari header dasar dan berakhir pada data. Router  hanya   perlu   memproses   header   yang   terkecil   yang   diperlukan   saja, sehingga   waktu   pemrosesan   menjadi   lebih   cepat.   Hasil   dari   perbaikan   ini, meskipun ukuran header dasar membesar dari 20 bytes menjadi 40 bytes namun jumlah field berkurang dari 12 menjadi 8 buah saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

H. Perubahan dari IPv4 ke IPv6

Perubahan  dari  IPv4  ke  IPv6  pada  dasarnya  terjadi  karena  beberapa

hal  yang dikelompokkan dalam kategori berikut :

1. Kapasitas Perluasan Alamat

IPv6 meningkatkan ukuran dan jumlah alamat yang mampu didukung oleh IPv4 dari 32 bit menjadi 128bit. Peningkatan kapasitas alamat ini digunakan untuk  mendukung   peningkatan   hirarki   atau   kelompok   pengalamatan,   peningkatan  jumlah atau kapasitas alamat yang dapat dialokasikan dan diberikan pada node  dan mempermudah konfigurasi alamat pada node sehingga dapat dilakukan secara

otomatis. Peningkatan skalabilitas juga dilakukan pada routing multicast dengan meningkatkan   cakupan   dan   jumlah   pada   alamat   multicast.   IPv6   ini   selain meningkatkan jumlah kapasitas alamat yang dapat dialokasikan pada node juga mengenalkan   jenis   atau   tipe   alamat   baru,   yaitu   alamat   anycast.   Tipe   alamat anycast ini didefinisikan dan digunakan untuk mengirimkan paket ke salah satu dari kumpulan node.

2. Penyederhanaan Format Header

Beberapa   kolom   pada   header   IPv4   telah   dihilangkan   atau   dapat   dibuat sebagai header pilihan. Hal ini digunakan untuk mengurangi biaya pemrosesan hal-hal yang umum pada penanganan paket IPv6 dan membatasi biaya bandwidth pada header IPv6. Dengan demikian, pemerosesan header pada paket IPv6 dapat dilakukan secara efisien.

3. Option dan Extension Header

Perubahan   yang   terjadi   pada   header-header   IP   yaitu   dengan   adanya pengkodean  header   Options  (pilihan)   pada   IP  dimasukkan   agar   lebih   efisien dalam   penerusan   paket   (packet   forwarding),   agar   tidak   terlalu   ketat   dalam pembatasan panjang header pilihan yang terdapat dalam paket IPv6 dan sangat fleksibel/dimungkinkan untuk mengenalkan header pilihan baru pada masa akan datang.

4. Kemampuan Pelabelan Aliran Paket

Kemampuan   atau   fitur   baru   ditambahkan   pada   IPv6   ini   adalah memungkinkan   pelabelan   paket   atau   pengklasifikasikan   paket   yang   meminta penanganan khusus, seperti kualitas mutu layanan tertentu (QoS) atau real-time.

5. Autentifikasi dan Kemampuan Privasi

Kemampuan tambahan untuk mendukung autentifikasi, integritas data dan data penting juga dispesifikasikan dalam alamat IPv6. Perubahan terbesar pada IPv6 adalah perluasan IP address dari 32 bit pada IPv4 menjadi 128 bit.128 bit ini adalah ruang address yang kontinyu dengan menghilangkan konsep kelas. Selain itu juga dilakukan perubahan pada cara penulisan IP address. Jika pada IPv4 32 bit dibagi menjadi masing-masing 8 bit yang dipisah kan dengan “.” dan di tuliskan dengan   angka   desimal,   maka   pada   IPv6,   128   bit   tersebut   dipisahkan   menjadi masing-masing   16   bit   yang   tiap   bagian   dipisahkan   dengan   “:”dan   dituliskan dengan   hexadesimal.   Selain   itu   diperkenalkan   pula   struktur   bertingkat   agar pengelolaan routing menjadi mudah. Pada CIDR (Classless Interdomain Routing) table routing diperkecil dengan menggabungkan jadi satu informasi routing dari sebuah organisasi.


 

I. Transisi IPv6 

Untuk mengatasi kendala perbedaan antara IPv4 dan IPv6 serta menjamin terselenggaranya  komunikasi  antara  pengguna  IPv4 dan  pengguna  IPv6, maka dibuat   suatu   metode   Hosts   –  dual   stack  serta  Networks   –   Tunneling  pada perangkat jaringan, misalnya router dan server .

Jadi setiap router menerima suatu paket, maka router akan memilah paket tersebut untuk menentukan protokol yang digunakan, kemudian router tersebut akan meneruskan ke layer diatasnya.

 

 

 

 

 

J. Contoh Infrastruktur IPv6


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

IPv4 yang merupakan pondasi dari Internet telah hampir mendekati batas akhir   dari   kemampuannya,   dan   IPv6   yang     merupakan   protokol   baru   telah dirancang   untuk   dapat   menggantikan   fungsi   IPv4.   Motivasi   utama   untuk mengganti IPv4 adalah karena keterbatasan dari panjang addressnya yang hanya 32 bit saja serta tidak mampu mendukung kebutuhan akan komunikasi yang aman, routing   yang   fleksibel   maupun   pengaturan   lalu   lintas   data.   Keunggulan   IPv6 dibandingkan   dengan   IPv4   diantaranya   yaitu   setting   otomatis  stateless  dan statefull.   Kemudian,   dasar   migrasi   perubahan     dari   Ipv4   ke   Ipv6   diantaranya kapasitas perluasan alamat, penyederhanaan format header, option dan extension header,   kemampuan   pelabelan   aliran   paket   serta   autentifikasi   dan   kemampuan privasi.   Untuk   mengatasi   kendala   perbedaan     antara     IPv4     dan     IPv6     serta menjamin   terselenggaranya   komunikasi   antara pengguna IPv4 dan pengguna IPv6, maka dibuat suatu metode Hosts – dual stack  serta  Networks – Tunneling pada hardware jaringan, misalnya router dan server .

B. Saran

1.   Address   space  IPv6   adalah   sebuah   sumber   daya   publik   yang   harus   diatur dengan   hati-hati   sehubungan   dengan   kepentingan   internet   jangka   panjang. Manajemen  address space  yang bertanggung jawab mencakup penyesuaian seperangkat tujuan yang kadang bersifat kompetitif.

2.   Walaupun IPv6 menyediakan pool address space yang sangat besar, kebijakan address   sebaiknya   menghindari   praktik   yang   sia-sia   dan   tidak   perlu. Permohonan  address   space  sebaiknya   didukung   dengan   dokumentasi   yang sesuai dan penimbunan address yang tidak terpakai sebaiknya dihindari.

3.   Setiap   delegasi   dan/atau   alokasi  address   space  harus   menjamin   keunikan universal.   Ini   merupakan   persyaratan   mutlak   guna   menjamin   setiap   host publik dapat diidentifikasikan secara unik di internet.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.   Irvan Nasrun. 2005. “Mengenal Internet Protokol Masa Depan”. Majalah

CHIP Spesial Networking, halaman 6.

2.   http://www.ipv6forum.com     diakses 24 Desember 2008.

3.   http://www.ipv6.org     diakses 24 Desember 2008.

4.   http://www.ipv6.research.microsoft.com     diakses 24 Desember 2008.

5.   Rahmat Rafiudin. 2005. “Ipv6 Addressing”. Jakarta : Gramedia.

6.   R. Mohamad Dikshie Fauzie. 2003. “Pengantar IPv6 dan Implementasinya

pada   FreeBSD”.(http://www.ilmukomputer.com)   diakses   24   Desember

2008.

10 thoughts on “MAKALAH JARINGAN KOMPUTER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: